TEROR TUMBAL KERANDA MAYAT
Adi dan Rudi adalah dua sahabat yang sudah berteman sejak kecil. Mereka sama-sama tinggal di desa kecil di pinggiran kota dan sering diberi tugas untuk membantu kegiatan di mushola, termasuk berjaga malam saat ada warga yang meninggal.
Adi adalah tipe orang yang skeptis. Ia tidak mudah percaya pada cerita-cerita mistis yang beredar di desa mereka. Sementara itu, Rudi adalah kebalikannya. Ia tumbuh besar dengan berbagai cerita horor yang sering diceritakan oleh kakeknya. Salah satu kisah yang paling membuatnya takut adalah tentang keranda mayat tua di mushola.
Menurut cerita orang-orang tua, keranda itu sudah digunakan selama puluhan tahun. Namun, ada sesuatu yang aneh—kadang, keranda itu terdengar berdecit sendiri di malam hari. Ada juga yang mengaku pernah melihatnya bergeser sedikit, seolah ada sesuatu yang masih bersemayam di dalamnya.
MALAM MENCEKAM DI MUSHOLA
Malam itu, giliran Adi dan Rudi yang berjaga di mushola setelah pemakaman seorang warga desa. Mereka duduk di lantai, mengobrol untuk membunuh rasa kantuk.
"Aku nggak nyaman, Di," ujar Rudi pelan sambil melirik ke arah sudut ruangan, tempat keranda itu diletakkan.
Adi terkekeh, "Udah jangan parno. Itu cuma benda mati."
Namun, suasana malam itu terasa berbeda. Angin bertiup lebih dingin dari biasanya, dan mushola terasa lebih sunyi. Sekitar pukul dua dini hari, lampu di mushola tiba-tiba meredup tanpa alasan.
Tiba-tiba, terdengar suara berdecit pelan.
"Krekk... krekk..."
Mereka berdua menoleh. Keranda itu bergoyang perlahan!
"D-Di... kamu lihat itu?" bisik Rudi dengan suara gemetar.
Adi hanya bisa menelan ludah. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana tutup keranda itu mulai bergeser sedikit demi sedikit, menciptakan celah hitam menganga.
Dari dalam celah itu, muncul jari-jari hitam kaku dengan kuku panjang yang membusuk.
Jantung Adi berdegup kencang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Rudi, kita harus pergi dari sini!" bisiknya ketakutan.
Tapi sebelum mereka bisa bergerak, keranda itu tiba-tiba jatuh dengan suara keras, dan dari dalamnya meluncur keluar sosok yang terbungkus kain kafan.
Sosok itu bergerak!
Mata putihnya terbuka lebar, menatap mereka dengan tatapan kosong. Bibirnya bergerak pelan, menggumamkan sesuatu yang tidak bisa mereka pahami.
Tanpa pikir panjang, Adi dan Rudi langsung berlari keluar mushola, meninggalkan keranda yang kini berdiri tegak kembali, seakan tidak pernah bergerak.
Sejak malam itu, tidak ada lagi yang berani berjaga sendirian di mushola tua itu.
Setelah kejadian malam itu, Adi dan Rudi memilih diam. Mereka tidak berani menceritakan apa yang mereka alami, takut dianggap berhalusinasi atau lebih buruk lagi—dihantui.
Namun, keanehan tidak berhenti di sana.
Keesokan harinya, saat pengurus mushola, Pak Salim, datang untuk membersihkan, ia menemukan sesuatu yang aneh. Ada bekas cakaran panjang di lantai kayu, tepat di bawah keranda mayat.
"Siapa yang iseng coret-coret lantai mushola?" gumam Pak Salim. Ia mengusap tanda itu dengan tangannya, tapi bekasnya tidak hilang.
Malam berikutnya, giliran penjaga lain, Wawan, yang berjaga. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Adi dan Rudi. Tapi saat pukul dua dini hari, ia mengalami hal yang sama.
Suara "krekk... krekk..." terdengar dari sudut ruangan.
Dengan napas tercekat, Wawan menoleh. Keranda itu bergoyang sendiri.
Dan kali ini, ia melihat sesuatu yang lebih mengerikan—dari dalam celah keranda, sepasang mata putih menatapnya!
Wawan langsung jatuh terduduk, tubuhnya lemas. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Lalu, suara lirih terdengar, seperti bisikan dari dalam keranda:
"Tolong..."
Wawan berlari sekencang-kencangnya keluar mushola, tidak peduli sendalnya terlempar.
Asal-Usul Keranda Tua
Kejadian itu akhirnya sampai ke telinga sesepuh desa, Mbah Wiryo. Dengan wajah serius, ia mengumpulkan Adi, Rudi, dan Wawan untuk bercerita.
"Kalian tahu kenapa keranda itu selalu disimpan di mushola?" tanya Mbah Wiryo. Mereka bertiga menggeleng.
Mbah Wiryo menarik napas panjang. Mbah Wiryo hendak bercerita pada mereka, tapi sedetik kemudian ia membatalkannya. Puncaknya terjadi seminggu kemudian.
Saat malam tiba, warga dikejutkan oleh suara gaduh dari dalam mushola. Beberapa orang datang untuk mengecek. Namun ketika mereka membuka pintu mushola, keranda itu sudah tidak ada di tempatnya.
Yang lebih mengerikan, di tengah ruangan ada jejak panjang, seperti sesuatu yang telah diseret ke luar...
Dan sejak malam itu, keranda tua itu tidak pernah ditemukan lagi.
Sejak malam di mushola, Adi merasa ada yang berubah. Semula, ia hanya merasa sedikit gelisah, tapi lama-lama perasaan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk. Ia merasa selalu diawasi.
Awalnya, ia berpikir ini hanya sugesti. Namun, semuanya berubah ketika kejadian-kejadian aneh mulai terjadi.
1. LANGKAH KAKI TENGAH MALAM
Dua malam setelah insiden keranda, Adi terbangun di tengah malam. Kamarnya gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang samar. Saat ia mencoba memejamkan mata kembali, ia mendengar suara langkah kaki di luar rumahnya.
"Tap... tap... tap..."
Adi menahan napas. Rumahnya ada di pinggir desa, dekat kebun, dan tidak seharusnya ada orang berkeliaran malam-malam begini.
Tiba-tiba, suara langkah itu berhenti tepat di depan jendela kamarnya.
Dengan jantung berdegup kencang, Adi beringsut pelan-pelan dan menoleh ke arah jendela. Tirai jendelanya sedikit terbuka. Ia bisa melihat bayangan seseorang berdiri di luar—diam, tak bergerak.
Perlahan, sosok itu menempelkan wajahnya ke kaca jendela.
Adi tidak bisa melihat jelas dalam gelap, tapi ia tahu mata putih itu menatapnya!
Ia buru-buru menarik selimut dan memejamkan mata erat-erat. Namun, suara berbisik pelan terdengar dari luar jendela.
"Adi... tolong aku..."
Itu suara lirih, parau, seperti datang dari keranda yang ia lihat di mushola.
2. SOSOK DALAM CERMIN
Sejak malam itu, Adi jadi sering melihat bayangan hitam di sudut matanya. Namun, kejadian yang paling menyeramkan terjadi saat ia sedang mencuci muka di kamar mandi.
Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya, lalu mengangkat kepala menatap cermin. Di belakangnya, ada seseorang!
Seseorang dengan tubuh terbungkus kain kafan, wajah pucat dengan mata kosong menatapnya.
Adi terkesiap dan berbalik. Tidak ada siapa-siapa.
Tapi saat ia melihat cermin lagi, sosok itu semakin dekat.
Dan saat Adi ingin berlari keluar, cermin itu retak dengan sendirinya.
3. BANGKU KOSONG MUSHOLA
Satu minggu setelah kejadian itu, Adi memutuskan untuk kembali ke mushola bersama Rudi. Ia ingin membuktikan bahwa semua ini hanya halusinasi dan ketakutan berlebihan.
Namun, saat mereka berdua duduk di dalam mushola, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Tiba-tiba, salah satu bangku kayu di pojokan mengeluarkan suara berderit, seperti ada yang sedang duduk di sana.
Padahal tidak ada siapa-siapa,tapi yang lebih mengerikan, ada jejak tangan hitam yang tiba-tiba muncul di bangku itu.
Seolah seseorang yang tak kasat mata baru saja menempelkan tangannya di sana.
Rudi langsung menarik tangan Adi. "Kita pergi dari sini!"
Adi ingin lari, tapi ia terlalu takut untuk bergerak. Dalam sekejap, ia mendengar suara tawa pelan—tawa dari dalam keranda.
Dan ketika mereka keluar, sekilas, Adi melihat sesuatu dari sudut matanya.
Keranda itu bergeser sedikit.
Suatu malam, Rudi pulang dari warung setelah membeli rokok. Jalanan desa sudah sepi, hanya ada suara jangkrik dan gesekan daun yang tertiup angin.
Saat melewati perempatan kecil dekat kuburan desa, ia melihat seseorang berdiri di pinggir jalan.
Sosok itu mengenakan pakaian lusuh, tubuhnya sedikit bungkuk, dan rambutnya menutupi wajahnya. Sosok itu diam saja, tidak bergerak.
Rudi mempercepat langkahnya. Namun saat ia melewati sosok itu, tiba-tiba kepalanya menoleh dengan gerakan patah!
Matanya kosong. Bibirnya tersenyum lebar dengan gigi-gigi hitam berkarat.
Rudi langsung berlari sekencang-kencangnya, tak berani menoleh lagi. Namun, di belakangnya, ia masih mendengar suara langkah berat yang mengejarnya...
Setelah berminggu-minggu mengalami gangguan, Rudi mulai kehilangan semangat. Ia tidak bisa tidur nyenyak dan selalu merasa gelisah.
Gangguan ini semakin menjadi. Setiap malam, Adi dan Rudi semakin ketakutan. Mereka merasa tidak bisa lari dari sesuatu yang telah mereka bangunkan.
Akhirnya, mereka memutuskan menemui Mbah Wiryo, sesepuh desa.
Mbah Wiryo hanya menatap mereka dengan mata tajam dan berkata:
"Kalian telah mengganggu sesuatu yang seharusnya tidak diganggu. Dan sekarang... dia tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja."
Adi dan Rudi saling berpandangan.
Mereka tahu, teror ini baru saja dimulai.
JAGA LISANMU
Malam saat mereka pertama kali berjaga di mushola, tepat sebelum mereka melihat keranda itu bergerak, Rudi sempat bercanda dan bersikap tidak hormat.
Ketika Adi mulai merasa tidak nyaman dengan suasana di mushola, Rudi justru mencoba mengusir rasa takut dengan bercanda:
"Apaan sih, Di? Cuma keranda tua doang. Kalo beneran ada hantunya, kenapa dia nggak keluar sekalian, hah? Ayolah, nongol!" katanya sambil menepuk-nepuk keranda dengan tawa mengejek.
Adi sudah memperingatkannya. "Rud, jangan sembarangan. Ini benda buat mayat, loh."
Tapi Rudi malah melangkah lebih jauh. Ia mengetuk-ngetuk keranda dan berkata dengan nada menantang:
"Eh, kalau emang ada isinya, coba gerak dong. Jangan cemen!"
Dan saat itulah, keranda itu bergetar pelan.
Wajah Rudi langsung pucat, tawanya menghilang. Mereka pun kabur, tapi sejak saat itu, sosok yang ada di dalam keranda seperti merasa tertantang.
Mbah Wiryo kemudian menjelaskan bahwa makhluk yang menghuni keranda itu adalah arwah penasaran yang tidak diterima tanah. Dulu, tubuhnya dikubur dalam keadaan tidak layak, dan keranda itu adalah rumah terakhirnya.
Ketika Rudi mengetuknya dan menantangnya, ia seperti telah "membangunkan" penghuni keranda itu.
Sejak saat itu, pocong keranda itu mengikuti Rudi, ingin menunjukkan dirinya.
SOSOK MENGERIKAN DALAM KERANDA
Mbah Wiryo akhirnya setuju membantu Adi dan Rudi, tapi dengan syarat: mereka harus siap mendengar kebenaran yang mungkin lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.
Di rumah Mbah Wiryo yang penuh aroma dupa dan rempah, lelaki tua itu menatap mereka dengan mata penuh rahasia.
"Kalian sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak dibangunkan," katanya.
Mbah Wiryo lalu mulai bercerita…
Dulu, ada seorang lelaki bernama Suro Wiguno. Ia adalah seorang penjaga kuburan desa. Seorang pria pendiam yang hidup sendiri dan jarang berbaur dengan warga.
Orang-orang menganggapnya aneh karena ia lebih sering berbicara dengan mayat daripada manusia.
Namun, tidak ada yang tahu rahasia kelam yang disimpannya.
Malam-malam, diam-diam Suro menggali kuburan bukan untuk menguburkan jenazah, tapi untuk sesuatu yang lebih mengerikan…
Ia mencuri mayat.
Tidak ada yang tahu pasti untuk apa ia melakukannya. Beberapa orang berkata ia belajar ilmu hitam, mencoba menghidupkan mayat dengan ritual terlarang.
Yang lain berkata ia menyimpan mayat-mayat itu di rumahnya, berbicara dengan mereka seolah mereka masih hidup.
Hingga suatu malam, perbuatannya terungkap.
KEMATIAN YANG MENGERIKAN
Seorang warga desa yang kehilangan anggota keluarganya curiga setelah makam yang baru dibuat tampak tergali. Warga desa lalu berbondong-bondong ke rumah Suro dan menemukan sesuatu yang mengerikan.
Di dalam rumahnya yang gelap dan pengap, mereka menemukan tiga jenazah dalam keadaan utuh, duduk bersila di sudut ruangan.
Mereka seperti sedang "diajak bicara" oleh Suro.
Saat warga menyeretnya keluar, ia hanya tertawa.
"Kalian tidak mengerti... Mereka masih hidup. Aku hanya menjaga mereka..."
Kemarahaan warga memuncak. Mereka tidak membawa Suro ke kepala desa atau ke polisi.
Mereka menghabisinya saat itu juga.
Ia dipukuli hingga tubuhnya remuk, lalu dimasukkan ke dalam keranda tanpa prosesi pemakaman, tanpa doa, tanpa kain kafan yang layak.
Tidak ada yang tahu di mana ia dikuburkan.
Namun, sejak malam itu, keranda di mushola desa selalu ada, tak pernah bisa dipindahkan.
DENDAM MAYAT DALAM KERANDA
Mbah Wiryo menatap Adi dan Rudi dengan serius.
"Arwahnya tidak pernah benar-benar pergi," katanya. "Dia mati dengan cara yang keji, dan dia tidak terima."
Itulah sebabnya keranda itu masih ada di sana, tetap kosong, tapi selalu terasa berat jika diangkat.
"Ketika kalian mengguncang keranda itu, kalian telah membangunkannya. Kini dia menuntut sesuatu dari kalian."
"Dia ingin kalian menggantikan tempatnya."
Adi dan Rudi saling berpandangan dengan wajah pucat.
Sementara itu, di luar rumah Mbah Wiryo, angin malam tiba-tiba berembus lebih dingin. Dan dalam bayang-bayang pepohonan, ada sosok yang diam-diam mengawasi mereka.
TEROR SEMAKIN MENCEKAM
Setelah mendengar cerita dari Mbah Wiryo, Adi dan Rudi merasa semakin gelisah. Mereka berharap teror itu akan mereda setelah mengetahui asal-usulnya, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Gangguan yang mereka alami semakin parah, seolah-olah Suro Wiguno tahu bahwa mereka telah menggali masa lalunya.
1. SOSOK POCONG DI ATAS GENTENG
Malam itu, Rudi tak bisa tidur. Bayangan wajah mengerikan yang menatapnya dari jendela terus terngiang di benaknya. Ia akhirnya keluar rumah untuk merokok, berharap udara dingin bisa menenangkannya. Namun, begitu ia menyalakan rokok, ia mendengar suara gerakan di atas genteng rumahnya.
"Cekrek... cekrek... cekrek..."
Seperti ada sesuatu yang merangkak di atas atap, perlahan namun pasti. Jantungnya berdegup kencang. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, menatap ke atas…
Di sana, di tengah gelapnya malam, ada sesosok tubuh terbungkus kain kafan, merangkak dengan gerakan patah-patah.Yang lebih mengerikan, wajahnya tersenyum menyerigai, giginya menghitam dan berkarat.
Sosok itu menatap Rudi, lalu mulai berbisik dengan suara yang serak dan bergetar:
"Ke…mari…"
Rudi tersentak mundur, menjatuhkan rokok dari tangannya. Tapi sebelum ia bisa berteriak, sosok itu terjun dari atap dan menghilang di kegelapan. Saat itu juga, lampu di rumahnya mati, meninggalkannya dalam gelap pekat.
2. GULING BERUBAH JADI POCONG
Sementara itu, Adi juga mengalami kejadian yang tak kalah mengerikan.
Setelah pulang dari rumah Mbah Wiryo, ia berusaha tidur, meskipun rasa takut masih menyelimuti pikirannya.
Malam semakin larut, dan akhirnya rasa kantuk menguasainya.
Namun, di tengah tidurnya, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Perlahan…
Seperti ada sesuatu di dalamnya yang menggeliat…
Adi langsung membuka mata. Dalam remang-remang cahaya dari luar jendela, ia melihat sesuatu yang membuatnya nyaris berhenti bernapas.
Guling itu tidak lagi berbentuk seperti guling biasa. Kini, ia berbentuk seperti tubuh manusia.
Lebih buruk lagi…Bagian atasnya perlahan mengangkat, seperti seseorang yang sedang bangun dari tidur.
Adi terpaku, tak mampu bergerak. Hingga akhirnya, sesuatu keluar dari dalam guling itu.
Sesosok wajah mengerikan. Wajah Suro Wiguno. Wajah yang sudah membusuk, matanya melotot tanpa bola mata, dan mulutnya menganga seperti ingin berteriak… atau ingin menggigit.
Adi langsung meloncat dari tempat tidur, tetapi sebelum ia bisa lari, guling itu tiba-tiba melompat ke arahnya!
Ia menjerit, meronta, mencoba melepaskan diri, tapi guling itu membelitnya seperti ular, membuatnya tak bisa bernapas.
Tiba-tiba…
BRAK!!!!!
Pintu kamarnya terbuka lebar. Semua kembali normal. Tidak ada guling bergerak sendiri. Tidak ada wajah menyeramkan. Namun, ketika ia menyalakan lampu, guling itu tergeletak di lantai dengan posisi aneh.
Terikat seperti kain kafan yang dikubur tanpa tali terbuka.
Dan di ujung guling itu… ada bekas noda hitam, seperti darah yang telah mengering.
3. KERANDA TERBANG
Malam itu, Rudi masih terjaga. Setelah kejadian di atap semalam, ia tak berani tidur sendirian. Ia memilih duduk di ruang tamu dengan lampu menyala, televisi dibiarkan menyala tanpa suara untuk menemaninya.Tapi tiba-tiba saja.lampu rumahnya berkedip-kedip, redup terang redup terang. Televisi yang semula menampilkan tayangan biasa mendadak berubah menjadi layar putih penuh semut. Suaranya berdesis keras, seperti bisikan-bisikan dari dimensi lain.
Kemudian, hening.
Udara di dalam rumah terasa lebih dingin, lebih menusuk hingga ke tulang.
Dan saat itu juga... bau khas melati dan minyak serimpi tercium kuat.
Bau yang mengingatkan Rudi pada mushola desa… pada keranda mayat yang tidak bisa dipindahkan itu. Bau yang menusuk hingga ke tenggorokan, membuat bulu kuduknya berdiri.
Perlahan ia berdiri, dengan tubuh gemetar, Rudi melangkah ke jendela. Hatinya berdebar kencang, keringat mengucur di dahinya, rasa ngeri menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dengan tangan gemetar, ia menyingkap sedikit tirai…
Dan apa yang dilihatnya membuatnya nyaris terkencing di tempat.
Keranda mayat itu melayang berputar putar di depan rumahnya seraya mengeluarkan bunyi gesekan yang menakutkan.
Di dalam kegelapan, warna kayu tua keranda itu tampak lebih pekat, seolah-olah basah. Seperti ada sesuatu yang merembes dari dalamnya…
Merah darah.
Dari celah-celah peti, menetes perlahan ke tanah.
"MLEBUO… MLEBUO…" (*MASUKLAH, MASUKLAH..)
Suara serak itu terdengar dari dalam keranda.
Bukan satu suara, tapi ramai, seperti rombongan pengantar jenazah yang menyerukan kalimat tahlil, tapi disini, kalimat itu yang ia serukan beramai ramai, " Mlebuo, Mlebuo ", terdengar seperti paksaan dan bentakan. seolah memaksa Rudi untuk masuk ke dalam keranda jenazah itu.
Jantungnya hampir copot. Keringat dingin mengucur deras.
Tiba-tiba...
TUTUP KERANDA ITU BERGESER SEDIKIT.
Dari celah-celah kecil yang terbuka…ada sepasang mata menyeramkan, yang mengintip langsung ke arahnya. Mata itu melotot tanpa bola mata, hanya rongga hitam legam menganga, tapi Rudi bisa merasakan…Makhluk itu melihatnya.
Seketika Ia mundur dengan napas tersengal. Dan saat ia ingin berlari—
BRAK! BRAK! BRAK!
Pintu rumahnya dihantam keras dari luar. Seperti ada yang berusaha masuk.
"MLEBUO… MLEBUO…"
Rudi menjerit, berlari ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat. Tapi suara itu masih terdengar.
Beramai ramai meneriakkan kata kata itu," MLEBUO, MLEBUO, MLEBUO...".
Mengisi setiap sudut ruangan.
Hingga akhirnya…tiba tiba suara itu menghilang dan kembali sunyi.
Tak ada suara. Tak ada ketukan. Tak ada teriakan ataupun bentakan.
Perlahan, Rudi mengatur napas, mencoba menenangkan diri. Ia menyandarkan dirinya di dinding kamar, kemudian perlahan menempelkan telinganya ke daun pintu…
Hening.
Ia berpikir, mungkin semuanya sudah berakhir.
Tapi saat ia berbalik…
keranda itu tiba tiba sudah berada dalam kamarnya, mengambang tepat di depan wajahnya. dan suara suara itu tiba tiba mengejut meneriakkan kata kata mengerikan itu.
Seketika tutup keranda mayat itu bergeser dan terbuka perlahan
Dan dari dalamnya, sesuatu mulai bangkit.
Sesuatu yang membusuk…
Sesuatu yang tersenyum menyeringai dengan gigi menghitam…
Sesuatu yang berbisik parau langsung ke telinganya:
"GANTIKAN AKU…"
Rudi seketika jatuh tak sadarkan diri.
Setelah kejadian mengerikan semalam, Adi dan Rudi tidak bisa lagi tinggal diam. Mereka tahu mereka tidak bisa melawan ini sendirian.
Keesokan harinya, dengan wajah pucat dan tubuh lemas akibat kurang tidur, mereka kembali menemui Mbah Wiryo.
Mbah tua itu tampak sudah menunggu mereka di teras rumahnya. Wajahnya tenang, namun sorot matanya penuh dengan kewaspadaan.
Tanpa perlu mereka bercerita panjang lebar, Mbah Wiryo sudah mengangguk pelan, seakan sudah tahu apa yang tersirat di depannya.
"Suro Wiguno makin kuat. Kalian berdua sudah jadi sasarannya."
Rudi menelan ludah. "Apa yang harus kami lakukan, Mbah? Semalam… k-keranda itu ada di depan rumah saya. Bahkan… masuk ke kamar!"
Mbah Wiryo menarik napas panjang, lalu menatap mereka dengan serius.
"Ini bukan sekadar arwah penasaran. Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Dan untuk menghentikannya…"
"Kita harus pergi ke mushola. Malam ini juga."
PERJALANAN KE MUSHOLA
Malam itu, mereka bertiga bersiap. Mbah Wiryo membawa beberapa benda:
Segenggam garam hitam
Daun sirih yang sudah dirajah dengan tulisan Jawa kuno
Minyak misik hitam
Sebuah kendi berisi air doa
Mereka berjalan menuju mushola yang sudah lama tak digunakan. Suasana semakin mencekam saat mereka melewati jalan setapak yang sepi.
Angin dingin berhembus perlahan. Suara dedaunan bergesek di antara sunyi.
Tiba-tiba…
"Hihihihi…"
Tawa pelan terdengar dari kejauhan. Mereka langsung berhenti.
Mbah Wiryo memejamkan mata sejenak, lalu berbisik, "Ojo noleh.Mlakuo terus"
Adi dan Rudi hanya bisa mengangguk, menahan rasa takut yang semakin menusuk.
Tapi suara itu semakin dekat…
Disusul dengan suara langkah kaki yang menyeret di atas tanah.
"Srek… srek… srek…"
Ada sesuatu yang mengikuti mereka. Sesuatu yang mengerikan dan siap untuk menerkam mereka.
Adi melirik ke bayangannya sendiri di tanah. Dan di sana…ia melihat ada bayangan lain yang tidak seharusnya ada.
Bayangan seseorang… yang berdiri di atas keranda, mengawasi mereka dari belakang.
Di Dalam Mushola: Keranda Itu Bergerak Lagi
Begitu mereka sampai di mushola, suasana langsung berubah.
Udara lebih berat. Bau minyak serimpi dan melati kembali menusuk hidung.
Dan di tengah mushola itu…Keranda mayat masih ada di tempatnya.
Tapi kali ini… ia sudah bergeser beberapa inci. Seolah-olah… ada yang baru saja keluar darinya.
Mbah Wiryo segera mengambil garam hitam dan menaburkannya membentuk lingkaran di sekitar mereka.
"Lakukan apapun yang terjadi, jangan keluar dari lingkaran ini," ucapnya tegas. Beliau memberi pagar gaib disekitar mereka.
Adi dan Rudi hanya bisa menahan napas, tubuh mereka gemetar ketakutan.
Mbah Wiryo lalu mulai membaca doa-doa dalam bahasa Jawa kuno, suara beliau lirih namun penuh tekanan.
Keranda itu mulai bergetar.
Perlahan…Semakin keras…
DUK!
Sesuatu di dalamnya menggedor dari dalam!
DUK! DUK! DUK!
TUTUP KERANDA ITU BERGESER!
Dan Dari dalamnya… sepasang tangan kurus dengan kuku hitam panjang mencuat keluar.
Mbah Wiryo semakin cepat membaca doa-doanya. Air doa dari kendi ia cipratkan ke keranda.
Keranda itu menghentak keras, seolah ada sesuatu yang tersiksa di dalamnya.
Lalu…
Sesosok tubuh terbungkus kain kafan keluar perlahan…
Suro Wiguno.
Ia tidak lagi sekadar bayangan atau mimpi buruk.
Kini ia benar-benar berdiri di depan mereka.
Wajahnya membusuk, senyumnya menyeringai lebar dengan gigi hitam berkarat.
Dan matanya… kosong.
Namun, di antara rongga kosong itu… air mata hitam mengalir.
Adi dan Rudi membeku. Mereka ingin lari, tapi kaki mereka terasa berat.
Dengan suara serak yang bergema di seluruh mushola…
"KEMBALIKAN HAKKU…"
TERKUAKNYA RAHASIA KELAM
Mbah Wiryo tetap tenang, meski keringat mulai mengalir di pelipisnya.
Beliau menatap langsung ke arah pocong itu, lalu berkata lantang, "Hakmu apa? Ndang Ngomong!"
Suro Wiguno terdiam sejenak. Tubuhnya bergetar hebat, seolah-olah menahan sesuatu.
Tiba-tiba sosok itu menangis.
Air matanya yang hitam jatuh ke lantai, menciptakan noda pekat di ubin mushola.
Dengan suara parau, ia berkata:
"Aku... dikubur hidup-hidup."
Adi dan Rudi menegang. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.
Mbah Wiryo menghela napas panjang. Seolah ia sudah menduga hal ini sejak awal.
"Aku difitnah… Aku dibunuh tanpa kafan, tanpa doa... Aku ingin pulang… Tapi tak ada yang membukakan pintu untukku…"
Adi dan Rudi saling berpandangan. Mereka akhirnya mengerti kenapa kekacauan ini sekarang terjadi, sebab itulah, sosok Suro Wiguno tidak tenang dan meneror warga.
Suro Wiguno bukan sekadar arwah penasaran. Ia adalah korban dari kebiadaban manusia.
Ia bukan ingin meneror. Ia ingin meminta keadilan.
Permintaan Terakhir Suro Wiguno
Pocong itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya suaranya kembali terdengar—kali ini lebih lirih, lebih menyedihkan.
“Aku ingin dikuburkan dengan layak…”
Rudi menelan ludah. Tangan dan kakinya gemetar.
Adi juga sama. Ia merasa lemas, seolah semua tenaga menguap dari tubuhnya.
Mbah Wiryo mengangguk pelan, seolah sudah memahami semuanya.
"Suro Wiguno… Kau ingin jasadmu ditemukan dan dikuburkan sesuai adat, bukan?"
Sosok itu tidak menjawab.
Namun, perlahan, ia mengangkat tangannya… menunjuk ke arah keranda itu.
Seketika, udara di dalam mushola semakin dingin.
Dari dalam keranda, sesuatu menetes ke lantai.
Darah hitam.
Bau busuk kembali menyeruak, lebih tajam dari sebelumnya.
Mbah Wiryo merogoh kantongnya, mengambil segenggam garam hitam dan daun sirih, lalu menaburkannya ke tanah.
Tiba-tiba…Keranda itu bergerak sendiri.
Pelan… lalu semakin keras. Sesuatu di dalamnya berusaha keluar!
Adi dan Rudi mundur beberapa langkah, nyaris jatuh.
DUK! DUK! DUK!
Tutup keranda itu terbuka dengan sendirinya. Dan di dalamnya…
Ada jasad yang sudah lama membusuk.
Jasad Suro Wiguno.
Tubuhnya masih dalam posisi terikat kain kafan, namun ada sesuatu yang ganjil.
Kakinya… TANGANNYA… Lehernya… semuanya terikat tali rotan!
Seperti sengaja diikat agar tidak bisa bergerak!
Suro Wiguno dikubur hidup-hidup!
AKHIR SEBUAH KUTUKAN MENGERIKAN
Mbah Wiryo langsung bergerak cepat.
"Jasadnya harus kita makamkan dengan benar! Jika tidak, arwahnya akan terus bergentayangan!"
Namun, saat mereka hendak bergerak…Lampu mushola mendadak padam. Suara tawa mengerikan bergema dari setiap sudut ruangan.
"HIHIHIHIHI!"
Lalu…
Dari dalam kegelapan, sosok lain muncul. Bukan hanya Suro Wiguno. Ada lebih banyak pocong…Mereka bukan arwah yang ingin damai. Mereka adalah arwah penasaran yang tidak ingin Suro Wiguno menemukan ketenangannya.
Mbah Wiryo mencabut keris kecil dari sabuknya, lalu berkata tegas:
"Jangan biarkan mereka mendekat! Ini ujian terakhir kita!"
PERTARUNGAN
Malam di mushola itu berubah menjadi medan pertempuran supranatural.
Mbah Wiryo berdiri tegap di depan keranda, menghadang barisan pocong yang mendekat.
Sementara itu, Adi dan Rudi harus mencari cara untuk segera menguburkan jasad Suro Wiguno, sebelum arwah-arwah lain merebutnya kembali ke alam kegelapan.
Mbah Wiryo Melawan Barisan Pocong Jahat. Dari kegelapan mushola, pocong-pocong lain mulai muncul. Mereka bukan hanya berdiri diam. Mereka melompat cepat, bergerak dengan cara yang tidak semestinya.
"HIHIHIHI!"
Salah satu pocong menyeringai lebar, wajahnya hancur membusuk, darah hitam menetes dari lubang matanya. Ia berusaha meludahi Mbah Wiryo dengan ludahnya yang beracun itu.
Mbah Wiryo tak gentar. Beliau segera menyentakkan kendi berisi air doa ke udara!
"RAJAH KALA PITU, KEPUNG BUMI, KUNCI JIWO!!"
Air doa itu berubah menjadi kilatan cahaya, membentuk lingkaran perlindungan di sekitar mereka.
Namun pocong-pocong itu tidak berhenti. Mereka menyerang Mbah Wiryo dari segala arah.
DUK!
Salah satu pocong melompat ke arahnya!
Mbah Wiryo menghunus keris dan menusukkannya tepat ke dada pocong itu!
"ARRGHHH!!!"
Sosok itu langsung meledak menjadi abu. Namun, semakin banyak yang mendekat…
Mbah Wiryo harus bertahan!
Sementara itu, Adi dan Rudi berjuang dengan jasad Suro Wiguno. Mereka mengangkat tubuh membusuk itu keluar dari keranda. Namun… begitu tangan mereka menyentuh kain kafannya…
Jasad itu BERGERAK!
TANGAN Suro Wiguno mencengkeram lengan Rudi!
Mata kosongnya TERBUKA!
"Tolong… Tolong aku…" suaranya lirih, penuh penderitaan.
Rudi hampir pingsan di tempat.
Adi menggigit bibirnya, mencoba tetap fokus. Mereka tidak boleh berhenti!
Mereka menarik jasad itu ke luar mushola, menuju pemakaman yang tak jauh dari sana.
Namun, tanah di sekitar mereka mulai retak.
Dari dalamnya, tangan-tangan hitam keluar, mencoba menarik mereka ke dalam kegelapan.
"MEREKA TIDAK AKAN BIARKAN KITA BERHASIL!" teriak Rudi.
Adi menggertakkan giginya.
"KITA HARUS SELESAIKAN INI SEKARANG!!"
Mereka berlari sekencang mungkin menuju pemakaman.
Sementara itu…
Mbah Wiryo terus bertarung sendirian.
Beliau sudah kelelahan. Banyak pocong yang berhasil ia musnahkan, tapi jumlah mereka tak berkurang!
Sampai akhirnya…
"SELESAIKAN SEKARANG, ADI! RUDI!!"
PEMAKAMAN TERAKHIR
Adi dan Rudi menggali tanah dengan tangan gemetar.
Di depan mereka, jasad Suro Wiguno mulai membusuk lebih cepat. Seolah-olah waktu hampir habis. Namun, sebelum mereka selesai menggali…
POCOK!!
Jasad Suro Wiguno tiba-tiba TERANGKAT KE UDARA!
Ada kekuatan yang mencoba membawanya kembali! Sosok tinggi berjubah hitam muncul di depan mereka, wajahnya hanya bayangan pekat.
"JANGAN BERANI-BERANI MENOLAK TAKDIRNYA…!!"
BREEEETTT!!!
Sosok itu mencakar dada Rudi! Darah mengalir… Rudi terjatuh!
Adi berteriak, berusaha menarik jasad Suro Wiguno kembali ke tanah. Namun sosok itu terlalu kuat…
Tiba- tiba, Mbah Wiryo muncul di belakang mereka. Dengan sisa kekuatannya, beliau menusukkan keris pusaka langsung ke bayangan hitam itu!
"HANCURLAH!!"
BLAAARRRR!!!
Sosok itu menjerit, lalu terbakar menjadi abu hitam. Jasad Suro Wiguno jatuh ke tanah. Dan tanpa membuang waktu, Adi dan Mbah Wiryo menimbunnya dengan tanah. Tidak lupa mereka mendoakan jenazah itu.
Satu sekop.Dua sekop.Tiga sekop…Sampai akhirnya…
Sunyi.
Semua teror berhenti.
Bau melati menghilang. Udara kembali normal. Di kejauhan, suara adzan Subuh mulai terdengar.
Mereka bertiga terduduk di tanah, tubuh mereka penuh luka dan keringat.
Namun semuanya sudah berakhir. Suro Wiguno akhirnya mendapatkan pemakamannya yang layak.
Tapi sebelum menghilang…
Suro Wiguno tersenyum tipis ke arah mereka.
Lalu berbisik…
"Terima kasih…"
Sebelum tubuhnya memudar… menghilang bersama embun pagi.
Namun, sebelum benar-benar lenyap, ia meninggalkan satu kalimat terakhir
TAMAT
DISCLAIMER: ⚠️ DI LARANG KERAS MENJIPLAK, MENGCOPY, DAN MENGKOMERSIALKAN ISI BLOG TANPA SEIJIN PENULIS. ⚠️
%20floats%20mid-air%20in%20front%20of%20an%20old%20mushola.%20The%20coffin%20e.webp)
Komentar
Posting Komentar