TERSESAT KE ALAM GAIB KETIKA PULANG KERJA
Bagian 1: TERSESAT
Dina meregangkan tangannya yang pegal setelah seharian bekerja. Matanya melirik jam di ponselnya—22:30 malam. Terlambat lagi.
Hari ini ia harus lembur karena deadline laporan. Dina tahu pulang selarut ini berisiko, apalagi ia harus melewati jalan kecil di dekat hutan untuk sampai ke rumahnya. Namun, tidak ada pilihan lain.
Ia mengambil tasnya dan berjalan ke parkiran. Motor matic kesayangannya masih terparkir di tempat biasa. Tanpa berpikir panjang, ia menyalakan mesin dan mulai melaju di jalanan sepi.
Jalan yang biasa dilewatinya memang cukup gelap, hanya diterangi beberapa lampu jalan yang jaraknya berjauhan. Tapi malam ini… rasanya lebih gelap dari biasanya.
Dina menggigit bibirnya. Perasaan aneh mulai muncul di dadanya.
Saat sampai di pertigaan dekat hutan kecil, ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Seharusnya ia belok kanan seperti biasa, tetapi entah kenapa, malam ini ada jalan lain di sebelah kiri yang terlihat lebih terang.
Padahal, ia yakin jalan itu tidak pernah ada sebelumnya.
"Perasaan aku aja kali," gumamnya.
Karena ingin cepat sampai rumah, ia memilih melewati jalan yang lebih terang. Namun, baru beberapa meter memasuki jalan itu, suara motor tiba-tiba tersendat.
"Brak!"
Mesinnya mati.
Dina panik dan mencoba menyalakannya kembali, tetapi motor itu tidak mau hidup. Ia menengok ke sekeliling.
Jalanan ini… berubah.
Sekarang ia berada di tengah hutan lebat yang tidak dikenalnya. Pohon-pohon tinggi menjulang, lebih besar dari pohon biasa. Udara di sekitarnya terasa lembab dan dingin.
Bagaimana bisa? Bukankah tadi ia baru saja melewati jalan biasa?
Jantungnya mulai berdetak cepat. Ia mencoba membuka Google Maps di ponselnya, tetapi tidak ada sinyal. Semua aplikasinya tiba-tiba error.
“Tidak mungkin…” Dina mulai panik.
Di tengah keheningan malam, ia mendengar sesuatu. Suara pelan, seperti bisikan…
“…Pulanglah… sebelum terlambat…”
Dina membeku.
Bagian 2: BISIKAN GAIB
Matanya bergerak liar mencari sumber suara itu, tapi yang terlihat hanya pepohonan gelap. Nafasnya tersengal.
Ia mencoba menyalakan motornya lagi, kali ini dengan penuh tenaga. Tapi yang terdengar hanya suara mesin serak, seperti ada sesuatu yang menyumbatnya.
Lalu… di sudut matanya, ia melihat sesuatu bergerak di antara pepohonan.
Sosok putih… berdiri diam di kejauhan.
Dina tidak berani menoleh langsung. Ia hanya bisa merasakan keberadaannya.
“…Pulanglah…”
Kali ini suara itu lebih dekat. Lebih jelas.
Dina menelan ludah. Ia harus segera keluar dari tempat ini. Dengan cepat, ia turun dari motor dan mulai berlari.
Kakinya menabrak akar-akar pohon besar, ranting-ranting mencakar lengannya. Tapi ia tidak peduli. Ia terus berlari, berharap bisa menemukan jalan keluar.
Namun, semakin ia berlari… semakin dalam ia masuk ke dalam hutan.
Dan yang lebih menyeramkan, hutan ini tidak memiliki ujung.
Setiap kali ia berusaha mencari jalan kembali, ia malah kembali ke tempat yang sama—di mana motornya masih terparkir tanpa goresan sedikit pun, seakan tidak pernah ia tinggalkan.
Dina mulai menangis. "Tolong… keluarkan aku dari sini…"
Tiba-tiba, suara langkah terdengar. Bukan hanya satu, tapi banyak.
Dina menoleh… dan kali ini ia melihat mereka.
Di antara pepohonan, terdapat sosok-sosok tinggi dengan wajah samar, hanya memiliki mata hitam pekat yang bersinar dalam gelap.
Mereka berdiri diam… menatapnya.
Bagian 3: SEBUAH PENAWARAN
Dina mundur perlahan, tapi lututnya gemetar hebat.
Salah satu dari makhluk itu melangkah maju. Dari dekat, wajahnya seperti manusia, tetapi kulitnya terlalu pucat, matanya terlalu kosong.
"Kau tersesat," suara makhluk itu terdengar dalam pikirannya, bukan melalui telinga.
Dina membeku. "Tolong… biarkan aku pulang…"
Makhluk itu tersenyum, senyum yang tidak semestinya ada di wajah manusia.
"Ada dua pilihan," katanya. "Kami bisa membiarkanmu pergi… atau kau bisa tinggal di sini selamanya."
Dina merasa kepalanya pusing. Udara di sekitarnya semakin dingin, seolah menyedot panas dari tubuhnya.
"Aku… aku ingin pulang," katanya dengan suara bergetar.
Makhluk itu tertawa kecil. "Kalau begitu, kau harus melakukan satu hal."
Dina menelan ludah. "Apa?"
Makhluk itu menunduk dan menyentuh tanah. Tiba-tiba, sebuah lubang kecil muncul, seperti pintu yang mengarah ke kegelapan tanpa dasar.
"Lompatlah."
Dina terdiam. "K-kau bercanda, kan?"
"Tidak." Makhluk itu tersenyum lebih lebar. "Jika kau ingin kembali ke duniamu, kau harus melompat ke dalam lubang ini. Jika tidak… maka selamanya kau akan terjebak di sini."
Dina melihat ke dalam lubang itu. Gelap. Tidak ada cahaya, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Tapi, jika ia tidak melompat, ia akan selamanya terjebak di hutan ini… bersama mereka.
Dengan napas terputus-putus, Dina menutup matanya… dan melompat.
Bagian 4: TERSADAR
Dina terjatuh dalam kehampaan. Tidak ada suara, tidak ada rasa. Hanya kegelapan yang menyelimuti.
Lalu, tiba-tiba—
"Dina! Bangun!"
Matanya terbuka. Ia terbaring di tepi jalan, tepat di pertigaan tempat ia sebelumnya memilih jalan yang salah.
Motor matic-nya masih ada di sampingnya, mesin dalam keadaan mati.
Ia melihat sekeliling. Jalanan tampak normal, seperti biasa. Tidak ada hutan lebat, tidak ada makhluk menyeramkan.
Hanya seorang pria tua dengan pakaian lusuh yang menatapnya cemas.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu.
Dina mengangguk, meski tubuhnya masih gemetar. "A-aku… di mana?"
"Kau hampir masuk ke jalan terlarang," kata pria itu. "Beruntung aku menemukannya tepat waktu."
Dina menelan ludah. "Jalan terlarang?"
Pria itu menghela napas. "Dulu, di jalan itu, banyak orang yang hilang tanpa jejak. Ada yang bilang mereka masuk ke dunia lain dan tidak pernah kembali. Kau sangat beruntung bisa kembali, Nak."
Dina merinding. Ia melirik ke arah jalan yang tadi ia masuki.
Kini, jalan itu sudah tidak ada.
Hanya ada semak-semak lebat dan pepohonan seperti tidak pernah ada jalan di sana.
Dina merasakan tubuhnya lemas. Apa yang baru saja terjadi? Apakah itu hanya mimpi? Atau benar-benar nyata?
Ia tidak ingin tahu jawabannya.
Tanpa berpikir panjang, ia menyalakan motornya dan segera meninggalkan tempat itu.
Saat ia melaju pergi, telinganya samar-samar mendengar suara di belakangnya, berbisik lembut di udara malam.
“…Kau beruntung kali ini… tapi kami masih menunggumu…”
TAMAT
by. miko ahmad fauzi/2025

Komentar
Posting Komentar