PAMALI, SIULAN PEMANGGIL ARWAH
Di sebuah desa terpencil bernama Kembangjati, ada satu aturan yang tidak boleh dilanggar siapa pun: Jangan pernah bersiul setelah tengah malam. Aturan ini sudah ada sejak zaman leluhur, tapi tak ada yang berani menjelaskan alasannya.
Satria, seorang pemuda yang baru kembali ke desa setelah bertahun-tahun merantau, menganggap aturan itu tak lebih dari takhayul. Suatu malam, setelah berkumpul dengan teman-temannya, ia berjalan pulang sendirian melewati jalan setapak yang gelap dan sunyi. Langit mendung, hanya ada suara jangkrik dan gemerisik daun tertiup angin.
Tiba-tiba, Satria teringat larangan aneh itu. Dengan senyum mengejek, ia pun bersiul—nada pendek yang santai, sekadar membuktikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Namun, sebelum ia sempat melanjutkan langkah, terdengar balasan.
Sebuah siulan, berasal dari dalam hutan gelap di pinggir jalan.
Satria terdiam. Dadanya mulai berdebar. Itu mungkin hanya gema… atau angin. Ia mencoba bersiul lagi, kali ini dengan nada berbeda.
Balasannya datang, persis menirukan siulannya.
Tapi suaranya… terlalu dekat.
Jantung Satria berdegup kencang. Ia menelan ludah dan mulai berjalan lebih cepat. Tapi setiap langkah yang ia ambil, terdengar langkah lain mengikutinya—tak terlihat, tapi jelas ada.
Akhirnya, ia berlari.
Ketika sampai di rumah, ia mengunci pintu dan jendela dengan panik. Nafasnya masih tersengal ketika tiba-tiba… dari balik pintu depan, terdengar siulan pelan.
Dan kali ini, sesuatu mengetuk pintunya.
Satria berdiri terpaku di depan pintu. Siulan itu terdengar lagi—pelan, lambat, dan seolah mengejeknya. Ia menahan napas, berharap ini hanya imajinasinya. Tapi kemudian, ada ketukan. Tok. Tok. Tok.
Tidak keras, tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Satria mundur perlahan, lalu mengintip lewat jendela kecil di samping pintu. Jalanan desa sepi. Tidak ada siapa pun di luar. Namun, entah kenapa, udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Setelah beberapa menit berlalu tanpa suara lagi, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kebetulan. Mungkin angin. Mungkin anak-anak desa yang iseng.
Ia mengunci pintu dengan lebih rapat, lalu pergi ke dapur. Tenggorokannya kering, dan ia butuh minum. Ia menuang segelas air dan meneguknya dalam satu kali minum—tapi tiba-tiba, ia tersedak.
Ada sesuatu di dalam mulutnya.
Matanya melebar saat ia terbatuk keras. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya gatal. Ia berlari ke wastafel, mendorong jari ke tenggorokannya agar bisa mengeluarkan apa pun yang tersangkut.
Lalu sesuatu keluar.
Segumpal rambut hitam, panjang, basah, bercampur dengan ludah dan air.
Satria terengah-engah, memandangi benda menjijikkan itu dengan ngeri. Rambut itu tergeletak di wastafel, kusut dan berlendir seperti sudah lama terendam air.
Dari luar rumah, terdengar siulan lagi. Kali ini lebih dekat.
Satria menatap gumpalan rambut basah di wastafel. Pikirannya kacau. Ini tidak masuk akal. Dari mana rambut ini berasal? Bagaimana bisa ada di tenggorokannya?
Tiba-tiba, lampu dapur berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu padam.
Semuanya gelap.
Satria meraba-raba dinding, mencari saklar. Ketika ia menekan tombolnya, lampu kembali menyala… tapi hanya untuk sepersekian detik. Dalam kilatan cahaya itu, ia melihat sesuatu berdiri di ujung ruangan.
Siluet hitam. Tidak bergerak. Tidak bernapas.
Lalu gelap lagi.
Jantung Satria berdegup kencang. Tangannya gemetar saat ia menghidupkan lampu dari ponsel. Cahaya putih dari layar menerangi dapur, tetapi sosok tadi sudah tidak ada.
Tapi ada sesuatu yang berubah.
Wastafel yang tadi bersih, sekarang penuh dengan air hitam pekat, menggenang seperti lumpur busuk. Dan dari dalam air itu, perlahan muncul rambut panjang, mengambang di permukaannya.
Satria tersentak mundur. Ia tidak tahan lagi. Ia berlari ke kamarnya, mengunci pintu, dan bersembunyi di balik selimut seperti anak kecil. Tapi ketakutan itu nyata.
Dan suara itu belum berhenti.
Di luar kamar, terdengar langkah kaki menyeret. Lantai kayu berderit pelan.
Sreeek... Sreeek...
Langkah itu berhenti tepat di depan pintunya.
Hening.
Satria menahan napas. Tapi saat ia berpikir semuanya sudah selesai, sesuatu merayap dari bawah dipan tempat tidurnya.
Ia mendengar suara napas pelan.
Dekat.
Sangat dekat.
Dan lalu… terdengar siulan tepat di belakangnya.
Satria membeku. Siulan itu berasal dari belakangnya—dari kolong dipan. Ia ingin lari, tapi tubuhnya terasa berat. Jantungnya berdegup keras di dada, napasnya tersengal.
Pelan-pelan… ia menoleh ke belakang.
Di celah kecil antara kasur dan lantai, sesuatu bergerak. Bayangan pekat berkelindan di kegelapan. Lalu, terdengar suara gesekan pelan. Seperti kuku panjang yang mencakar lantai.
Sreeek… sreeek…
Satria meloncat turun dari tempat tidur dan berlari ke pintu. Namun, sebelum ia sempat membukanya, sesuatu menarik perhatiannya.
Di luar jendela, di genteng kaca kamarnya, ada sesuatu yang menatapnya.
Wajah itu menempel di kaca dari sisi luar. Kulitnya pucat kehijauan, seperti mayat yang membusuk di air. Matanya hitam legam, tanpa bola mata. Tapi yang paling mengerikan adalah senyumnya—senyum lebar yang tampak tidak wajar, memperlihatkan deretan gigi berkarat dan menghitam, seperti logam yang membusuk.
Wajah itu diam, hanya menatapnya. Senyumannya melebar… dan melebar… seolah rahangnya tidak memiliki batas.
Lalu, makhluk itu berbisik.
"Tukarkan tubuhmu…"
Jendela bergetar. Cahaya lampu kamar mulai berkedip. Dan di belakangnya, dari kolong dipan, sesuatu mulai merangkak keluar.
Satria ingin lari, ingin berteriak, tapi tubuhnya terasa kaku. Matanya terpaku pada wajah mengerikan di genteng kaca itu—senyumnya semakin melebar, gigi-giginya yang berkarat dan menghitam berkilau samar dalam kegelapan.
Dari bawah dipan, sesuatu merangkak keluar. Tangan kurus dengan kuku panjang berkarat mencengkeram lantai, merayap perlahan ke arahnya.
Lalu, siulan itu terdengar lagi.
Pelan. Mencekam.
Dada Satria terasa sesak. Lehernya seperti dicekik oleh sesuatu yang tak terlihat. Napasnya tersengal, dan tiba-tiba—badannya mulai bergerak sendiri.
Tangannya menekuk ke belakang, tubuhnya melenting tidak wajar. Kakinya terangkat, punggungnya melengkung dalam posisi kayang, tapi lebih tajam, lebih sakit, seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang memaksanya.
Mulutnya terbuka, tapi bukan suaranya yang keluar.
Melainkan suara siulan itu.
Matanya melotot, tubuhnya bergetar hebat. Dari mulutnya, bukan hanya siulan—tapi rambut hitam panjang yang terus keluar, melilit lehernya, menyusup ke hidung dan telinganya.
Di atasnya, wajah di genteng kaca semakin menekan ke bawah, hampir menembus kaca. Mata hitam itu menatapnya dengan lapar.
Satria merasakan sesuatu menarik sukmanya—jiwanya terasa dicengkeram oleh tangan dingin yang tak terlihat, ditarik keluar dari tubuhnya. Tubuhnya sendiri bergerak dengan liar, merangkak kayang semakin cepat, tangannya mencakar lantai, darah merembes dari kukunya yang patah.
Dan di saat itu—
KRAAAK!
Genteng kaca retak. Wajah mengerikan itu tersenyum semakin lebar, siap masuk.
KRAAAK!
Retakan di genteng kaca semakin besar. Wajah mengerikan itu mendorong masuk, kulitnya menempel pada pecahan kaca, senyumnya semakin lebar. Tukarkan tubuhmu… bisiknya lagi, suara parau bercampur dengan siulan yang terus terdengar dari mulut Satria.
Tubuh Satria masih merangkak kayang, bergerak liar seperti boneka yang talinya ditarik paksa. Dadanya naik turun dengan napas tersengal, matanya kosong. Jiwanya perlahan ditarik keluar.
Tapi tiba-tiba—
BRUK!
Pintu kamar terbuka dengan keras.
"SATRIA!"
Seorang pria tua berdiri di ambang pintu, membawa sesuatu yang berasap di tangannya. Mbah Wijaya, dukun tua desa. Wajahnya penuh amarah, mulutnya merapal mantra dengan suara berat.
Tangan Mbah Wijaya mengangkat segenggam garam hitam yang dicampur dengan abu dupa. Ia melemparkannya ke tubuh Satria yang langsung bergetar hebat. Siulan di mulutnya berhenti.
Dari genteng kaca, makhluk itu menjerit—bukan dengan suara manusia, tapi dengan suara seretan dan lolongan yang mengerikan. Wajahnya mulai memudar, tertarik ke dalam bayangan.
Tapi belum selesai.
Dari bawah dipan, tangan kurus yang tadi merayap kini melesat keluar, mencengkeram kaki Satria dan menariknya ke bawah!
Mbah Wijaya merogoh kantongnya dan melemparkan batu kecil berwarna merah ke arah bawah dipan. Batu itu menyala sekejap, lalu meledak menjadi asap putih pekat.
"Jangan biarkan dia masuk ke jiwamu!" bentaknya.
Tubuh Satria terhempas ke lantai. Ia terbatuk keras, matanya kembali fokus. Rambut hitam yang tadi keluar dari mulutnya kini menghilang. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar hebat.
Di atas, makhluk di genteng kaca memudar sepenuhnya, meninggalkan noda hitam di kaca.
Mbah Wijaya berlutut di samping Satria, menekan dahinya dengan jari. "Masih ada waktunya. Kau belum sepenuhnya terikat."
Satria menatapnya dengan mata nanar. "Apa… yang barusan terjadi…?"
Mbah Wijaya menghela napas. "Kau hampir ditukar. Sukmamu hampir diambil."
Dari luar rumah, angin berhembus kencang. Tapi untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, siulan itu tidak terdengar lagi.
Satria masih terengah-engah, tubuhnya lemas. Keringat dingin membasahi wajahnya. Mbah Wijaya duduk di lantai, menyalakan dupa dari kantong kainnya. Asap tipis berputar di udara, menenangkan suasana yang masih tegang.
"Kau bodoh, Satria," gumamnya. "Sudah dilarang bersiul tengah malam, tapi kau tetap melakukannya…"
Satria menatapnya, masih gemetar. "Apa… apa yang barusan menyerangku?"
Mbah Wijaya diam sejenak, matanya menerawang seolah menembus waktu. Lalu, ia mulai bercerita.
"Puluhan tahun lalu, desa ini punya seorang pemuda bernama Wongso. Ia tinggal sendirian di pinggir hutan, bekerja sebagai pembuat anyaman bambu. Wongso bukan orang jahat, tapi dia terkenal aneh—suka berbicara sendiri, tertawa tanpa alasan, dan sering terdengar bersiul tengah malam.
Orang-orang bilang, siulan itu bukan hanya kebiasaan. Wongso berbicara dengan sesuatu di dalam hutan.
Suatu malam, seorang bocah yang bermain terlalu jauh dari desa menghilang. Warga mencarinya berhari-hari, sampai akhirnya ditemukan di depan rumah Wongso—duduk kaku, matanya kosong, mulutnya terus bersiul tanpa henti.
Ketika Wongso ditanya, ia hanya tersenyum lebar. Senyum yang sama seperti yang kau lihat di genteng kaca tadi.
Amarah warga meledak. Mereka menyeret Wongso keluar rumahnya, memukulinya hingga sekarat. Tapi sebelum menghembuskan napas terakhir, Wongso tertawa keras—siulannya menggema di seluruh desa.
‘Kalian akan menggantikan aku. Satu per satu…’
Setelah itu, tubuhnya dilempar ke dalam sumur tua di hutan. Warga mengira semua sudah selesai. Tapi sejak malam itu, setiap kali seseorang bersiul tengah malam… siulan itu selalu dibalas.
Orang-orang yang mengabaikannya mulai mengalami gangguan. Ada yang melihat bayangan, ada yang mendengar siulan tepat di belakang telinga, ada juga yang… tubuhnya bergerak sendiri, seolah-olah sukmanya sedang dicuri.
Dan yang paling parah, mereka yang tidak segera diselamatkan akan menghilang tanpa jejak."
Di luar rumah, angin kembali berhembus. Dan dari kejauhan, samar-samar… siulan itu terdengar lagi.
Satria masih terengah-engah, tubuhnya lemas. Keringat dingin membasahi wajahnya. Mbah Wijaya duduk di lantai, menyalakan dupa dari kantong kainnya. Asap tipis berputar di udara, menenangkan suasana yang masih tegang.
"Kau bodoh, Satria," gumamnya. "Sudah dilarang bersiul tengah malam, tapi kau tetap melakukannya…"
Satria menatapnya, masih gemetar. "Apa… apa yang barusan menyerangku?"
Mbah Wijaya diam sejenak, matanya menerawang seolah menembus waktu. Lalu, ia mulai bercerita.
"Puluhan tahun lalu, desa ini punya seorang pemuda bernama Wongso. Ia tinggal sendirian di pinggir hutan, bekerja sebagai pembuat anyaman bambu. Wongso bukan orang jahat, tapi dia terkenal aneh—suka berbicara sendiri, tertawa tanpa alasan, dan sering terdengar bersiul tengah malam.
Orang-orang bilang, siulan itu bukan hanya kebiasaan. Wongso berbicara dengan sesuatu di dalam hutan.
Suatu malam, seorang bocah yang bermain terlalu jauh dari desa menghilang. Warga mencarinya berhari-hari, sampai akhirnya ditemukan di depan rumah Wongso—duduk kaku, matanya kosong, mulutnya terus bersiul tanpa henti.
Ketika Wongso ditanya, ia hanya tersenyum lebar. Senyum yang sama seperti yang kau lihat di genteng kaca tadi.
Amarah warga meledak. Mereka menyeret Wongso keluar rumahnya, memukulinya hingga sekarat. Tapi sebelum menghembuskan napas terakhir, Wongso tertawa keras—siulannya menggema di seluruh desa.
‘Kalian akan menggantikan aku. Satu per satu…’
Setelah itu, tubuhnya dilempar ke dalam sumur tua di hutan. Warga mengira semua sudah selesai. Tapi sejak malam itu, setiap kali seseorang bersiul tengah malam… siulan itu selalu dibalas.
Orang-orang yang mengabaikannya mulai mengalami gangguan. Ada yang melihat bayangan, ada yang mendengar siulan tepat di belakang telinga, ada juga yang… tubuhnya bergerak sendiri, seolah-olah sukmanya sedang dicuri.
Dan yang paling parah, mereka yang tidak segera diselamatkan akan menghilang tanpa jejak."
Mbah Wijaya menatap Satria dalam-dalam. "Wongso sudah lama mati. Tapi arwahnya tidak pernah pergi. Ia mencari pengganti… dan malam ini, ia memilihmu."
Satria menelan ludah. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi kini dingin yang ia rasakan bukan hanya dari kelelahan—melainkan ketakutan yang menusuk sampai ke tulang.
Mbah Wijaya mengembuskan asap dupa ke arah Satria. "Kau beruntung aku datang tepat waktu. Tapi ini belum selesai."
Satria menegang. "Belum… selesai?"
Mbah Wijaya mengangguk pelan. "Kau sudah dipilih. Gangguan ini tidak akan berhenti sampai kita benar-benar memutus ikatannya…"
Di luar rumah, angin kembali berhembus. Dan dari kejauhan, samar-samar… siulan itu terdengar lagi.
Angin malam berhembus dingin, membawa bisikan yang samar. Warga desa yang masih terjaga saling bertukar pandang dengan gelisah—karena malam ini, setelah puluhan tahun… siulan itu kembali terdengar.
Di rumah-rumah tua, lampu mulai berkedip. Bayangan-bayangan panjang terlihat di sudut-sudut gelap. Anjing-anjing yang biasanya menggonggong justru membisu, ekornya terselip di antara kaki.
Dan di sudut desa, seorang lelaki tua bernama Pak Sarman, yang tengah duduk di beranda rumahnya, merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia mendengar suara langkah kaki di halaman, menyeret pelan di atas tanah kering.
Sreeek… Sreeek…
"Siapa itu?" Pak Sarman berseru, suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban.
Namun, dari balik pagar bambu, sepasang mata hitam legam menatapnya.
Pak Sarman tersentak. Napasnya tercekat saat sosok itu perlahan maju ke dalam cahaya temaram lampu. Tubuh kurus dengan kulit pucat kehijauan, rambut panjang basah menempel di wajahnya, dan senyum itu… senyum mengerikan yang menampakkan deretan gigi berkarat dan menghitam.
Pak Sarman mencoba bangkit, tapi tubuhnya mendadak kaku. Kakinya terasa berat, seolah-olah ditarik oleh sesuatu dari dalam tanah.
Makhluk itu memiringkan kepalanya. Bibirnya bergerak, dan suara parau keluar dari mulutnya.
"Tukarkan tubuhmu..."
Lalu, Pak Sarman mulai bersiul—bukan karena keinginannya sendiri, tetapi karena sesuatu telah mengambil kendali atas tubuhnya.
Di rumah-rumah lain, warga mulai mendengar suara siulan dari berbagai penjuru desa.
Siulan yang tidak berasal dari mulut mereka sendiri.
Dan di tengah kegelapan, di atas genteng rumah-rumah, makhluk itu berdiri, menatap desa dengan mata kosong, senyumnya semakin melebar.
Malam itu, desa berubah menjadi neraka kecil.
Warga yang bersiul tanpa sadar mulai berjalan ke luar rumah, mata mereka kosong, tubuh mereka bergerak kaku seperti boneka yang dikendalikan. Mereka berdiri di jalanan dengan kepala menengadah, bibir mereka bergetar, mengeluarkan siulan yang semakin lama semakin nyaring.
Siulan itu bergema, membentuk harmoni yang tidak wajar.
Di sudut desa, seorang ibu muda menjerit saat melihat suaminya, Pak Wiryo, berdiri di depan jendela dengan senyum lebar yang tidak semestinya. Gigi-giginya berubah hitam dan berkarat. Dari mulutnya, sesuatu menjulur keluar—rambut panjang, basah, dan berbau busuk.
"Lari, Bu!" tetangganya berteriak.
Tapi terlambat. Pak Wiryo menoleh dengan gerakan kaku, menatap istrinya dengan mata hitam legam. Tangannya terangkat, dan dari kuku-kukunya yang sudah membusuk, belatung-belatung kecil mulai merayap keluar.
Di rumah lain, seorang anak kecil menangis saat melihat ayahnya memanjat dinding dengan cara yang tidak wajar, kakinya tetap menapak ke bawah sementara tubuhnya terbalik. Siulan keluar dari tenggorokannya, meski mulutnya tertutup rapat.
Di langit malam, sosok itu berdiri di atas menara mushola tua, tubuhnya lebih jelas dari sebelumnya. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin, dan senyumnya kini begitu lebar hingga hampir membelah wajahnya.
Siulan Wongso kini menguasai seluruh desa.
---
Di rumah Mbah Wijaya, Satria menahan muntah saat melihat seorang warga merangkak di luar jendela—bukan dengan tangan dan kaki, tapi dengan lehernya yang memanjang, menyeret tubuhnya seperti ular.
Mbah Wijaya menatap ke luar dengan wajah tegang. "Kita tidak punya waktu lagi."
"Jadi apa yang harus kita lakukan?!" Satria bertanya panik.
Mbah Wijaya menyalakan kemenyan dan merogoh kantongnya, mengeluarkan secarik kain putih berlumur tanah. "Kita harus pergi ke sumur tua di hutan. Kita harus menyelesaikan ini sebelum desa ini benar-benar menjadi miliknya."
Satria menelan ludah. Ia tidak ingin pergi ke tempat itu. Tapi melihat bagaimana teror ini semakin mengerikan, ia tahu tak ada pilihan lain.
Dari luar rumah, siulan semakin nyaring. Bayangan-bayangan berkeliaran di gang-gang sempit, dan di kejauhan, terdengar suara retakan keras.
KRRAAAKKK!
Genteng-genteng rumah mulai pecah. Wajah-wajah mengerikan dengan senyum menyeringai muncul di setiap atap rumah, mata hitam mereka menatap Satria dan Mbah Wijaya.
"Kita harus pergi sekarang!"
Mbah Wijaya menggenggam lengan Satria, dan keduanya berlari ke arah hutan…
Tanpa menyadari bahwa sesuatu sedang mengintai mereka di antara pepohonan.
Malam semakin kelam saat Satria dan Mbah Wijaya memasuki hutan. Udara terasa lebih berat, seperti ada sesuatu yang menggantung di sekeliling mereka. Hanya suara langkah kaki dan embusan napas mereka yang terdengar—sampai tiba-tiba…
KRRAAAKKK!
Sebuah pohon besar tiba-tiba ambruk di depan mereka! Tanah bergetar hebat, debu beterbangan, hampir mengenai mereka jika saja Mbah Wijaya tidak menarik Satria ke samping.
"Dia tahu kita datang," gumam Mbah Wijaya sambil menatap batang pohon yang terbelah seperti dipotong sesuatu yang tak terlihat.
Satria menelan ludah. "Kita tetap lanjut?"
Mbah Wijaya mengangguk tegas. "Tak ada jalan lain."
Mereka melangkah melewati pohon tumbang itu. Tapi belum jauh berjalan, kabut pekat tiba-tiba turun, menutupi seluruh jalan. Udara berubah dingin, begitu dingin hingga napas mereka terlihat dalam uap putih.
Satria menyipitkan mata, mencoba melihat ke depan. "Mbah… aku nggak bisa lihat apa-apa."
"Pegang bajuku, jangan lepas," perintah Mbah Wijaya.
Satria meraih ujung kain Mbah Wijaya, tapi saat jari-jarinya menyentuhnya—ia merasakan sesuatu yang berlendir dan dingin.
Ia tersentak mundur. "Mbah, ini bukan kainmu!"
Tiba-tiba, tertawa keras meledak dari dalam kabut.
Tawa itu bukan berasal dari satu suara, melainkan banyak suara—laki-laki, perempuan, anak-anak—semuanya tertawa bersamaan, menciptakan harmoni yang tidak wajar.
Dari dalam kabut, siluet-siluet mulai muncul. Bayangan-bayangan dengan tubuh bengkok, leher yang lebih panjang dari manusia biasa, dan senyum lebar dengan gigi berkarat.
Satria merinding. "Mbah, mereka mengelilingi kita."
Sebelum Mbah Wijaya sempat menjawab, lolongan panjang menggema dari kejauhan.
Bukan lolongan anjing—tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih seram, lebih lapar.
Lalu, jeritan pecah di segala arah. Suara tangisan, rintihan kesakitan, dan bisikan yang tidak jelas terdengar dari dalam kabut.
Satria mulai gemetar. "Kita… kita harus pergi dari sini!"
Mbah Wijaya merogoh kantong kainnya dengan cepat, mengeluarkan segenggam garam hitam. Ia melemparkannya ke tanah dan merapal mantra.
Kabut di sekitar mereka bergetar. Bayangan-bayangan itu melengking, menjerit seolah tersakiti. Dalam sekejap, kabut mulai menipis.
"Sekarang, lari!"
Mereka berdua berlari secepat mungkin, melompati akar-akar pohon dan menghindari ranting yang seolah-olah bergerak sendiri.
Dari kejauhan, mereka mulai melihat sumur tua itu—tersembunyi di antara pepohonan besar, dengan lumut menutupi bibir sumurnya.
Namun sebelum mereka bisa mencapainya, sesuatu yang tinggi dan kurus berdiri di depan sumur.
Makhluk itu menunggu mereka.
Satria dan Mbah Wijaya berhenti di tepi sumur tua. Nafas mereka tersengal, tubuh lelah setelah melewati berbagai gangguan yang mengerikan. Sumur itu terlihat lebih besar dari yang mereka bayangkan, batu-batunya ditumbuhi lumut hitam, dan dari dalamnya, udara dingin berhembus seperti napas dari sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Satria menelan ludah. "Jadi… kita harus mengakhiri ini di sini?"
Mbah Wijaya mengangguk, tapi sebelum ia bisa mengatakan apa-apa—suara siulan menggema dari dalam sumur.
Siulan itu tidak seperti yang mereka dengar sebelumnya. Kali ini lebih dalam, lebih berat, dan terasa… memanggil sesuatu.
Lalu, terdengar suara yang membuat darah mereka membeku.
Sreeek… sreeek…
Sesuatu mulai bergerak di dalam sumur.
Pelan.
Merangkak.
Jari-jari panjang, kurus, dan kehitaman muncul dari dalam kegelapan sumur, mencengkeram bibir batu yang dingin. Jari-jari itu menggali, kukunya yang panjang dan rusak menggores batu, menciptakan bunyi mencicit yang menusuk telinga.
Kemudian, makhluk itu mulai naik.
Sosoknya kurus dengan kulit yang melekat di tulang. Rambutnya panjang, basah, menempel di wajah yang tak berbentuk sempurna. Matanya hitam legam, kosong seperti jurang tanpa dasar. Tapi yang paling mengerikan adalah senyumnya—tersenyum begitu lebar hingga hampir membelah wajahnya, memperlihatkan gigi-gigi berkarat yang hitam dan membusuk.
Satria tak bisa bergerak.
Makhluk itu terus merangkak keluar, tubuhnya menjulur lebih panjang dari manusia biasa. Saat kakinya akhirnya menapak tanah, ia berdiri di depan mereka, menjulang tinggi, tubuhnya bergetar seolah-olah belum terbiasa berada di dunia ini lagi.
Lalu, ia berbicara.
Suara yang keluar bukan suara manusia. Serak, berbisik, dan seperti berasal dari banyak mulut yang berbicara bersamaan.
"Kalian… memanggilku kembali…"
Satria mundur selangkah. "Kami… kami tidak memanggilmu!"
Makhluk itu memiringkan kepalanya, seolah berpikir. Kemudian ia tersenyum lebih lebar—jauh lebih lebar.
"Kalau begitu… aku yang akan memberikan pilihan."
Ia melangkah lebih dekat, tubuhnya bergerak kaku seperti tulang-tulangnya dipaksa bekerja setelah sekian lama mati.
"Satu di antara kalian… harus menjadi penggantiku."
Satria membeku. "Apa… maksudmu?"
Makhluk itu mendekat, begitu dekat hingga Satria bisa mencium bau busuk dari tubuhnya.
"Aku butuh tubuh baru… Aku akan membiarkan desa ini hidup… jika salah satu dari kalian… bersedia."
Satria menoleh ke Mbah Wijaya, yang wajahnya tetap tenang meski matanya menyiratkan kegelisahan.
Makhluk itu menunduk, menatap mereka dengan mata kosongnya.
"Jadi… siapa yang akan menyerahkan tubuhnya untukku?"
Satria menatap makhluk itu dengan mata membelalak. Tawaran itu terus berulang di kepalanya—salah satu dari mereka harus menjadi penggantinya.
Dari dalam sumur, suara siulan semakin nyaring. Seakan ada sesuatu yang merayap masuk ke dalam pikirannya… mengisi celah-celah kosong dalam jiwanya.
"Satria… jangan dengarkan dia." Suara Mbah Wijaya terdengar tegas, tapi jauh di dalamnya ada ketakutan yang sulit disembunyikan.
Namun, tubuh Satria tiba-tiba bergetar. Dadanya naik turun dengan cepat, dan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Ghh… GAK… TIDAK…!!"
Satria mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, kukunya menggali kulitnya sendiri. Matanya membelalak, bola matanya berputar ke atas, menyisakan putih yang mengerikan.
Lalu tubuhnya mulai bergerak.
Perlahan, tulang punggungnya melengkung ke belakang dengan suara krek… krek… krek…
Dan dalam sekejap, ia merangkak kayang.
Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan siulan panjang yang sama seperti yang selama ini menghantui desa.
Mbah Wijaya mundur satu langkah, wajahnya menegang. "Satria! Lawan dia! Jangan biarkan dia masuk ke dalam ragamu!"
Tapi Satria hanya bisa tersenyum.
Senyuman yang bukan miliknya.
Ia merangkak mendekat, tangannya mencakar tanah, kepalanya terbalik dengan posisi tubuh yang salah. Mulutnya bergerak, tapi suara yang keluar bukanlah suaranya.
"Aku… sudah memilih… tubuh ini…"
Mbah Wijaya merogoh kantongnya dengan cepat, mengambil segenggam garam hitam dan melemparkannya ke arah Satria.
SYUUUT!
Satria menjerit. Tubuhnya bergetar hebat, namun tak berhenti merangkak mendekat.
Makhluk di dekat sumur itu hanya berdiri diam, menatap mereka dengan senyum yang semakin melebar, seakan menikmati pertunjukan ini.
"Satria… kalau kau bisa mendengarku, lawan dia!!"
Tapi Satria hanya terkekeh.
Tiba-tiba, dalam satu gerakan cepat—ia melesat ke arah Mbah Wijaya dengan kecepatan yang tidak wajar.
Satria melesat ke arah Mbah Wijaya dengan gerakan yang tidak wajar, merangkak dengan kecepatan mengerikan. Kepalanya terbalik, mulutnya terbuka lebar, dan dari tenggorokannya keluar suara siulan yang semakin nyaring.
Mbah Wijaya tak punya pilihan lagi.
Dalam sekejap, ia merogoh ikat pinggangnya dan menarik keluar seutas benang merah kusam yang terbuat dari serat ulat sutra. Benang itu bukan benang biasa—ini adalah pusaka peninggalan gurunya, yang mampu mengikat sukma yang hendak direbut oleh makhluk halus.
"SATRIA! AKU AKAN MEMBAWA KAU KEMBALI!"
Mbah Wijaya melemparkan benang merah itu ke arah Satria yang merangkak liar. Begitu benang menyentuh tubuhnya, cahaya redup berkedip dan suara mendesis terdengar.
"AAAGGHHHHH!!!"
Tubuh Satria kejang, punggungnya melengkung lebih dalam hingga terdengar suara krak! seolah-olah tulangnya akan patah.
Namun Mbah Wijaya tak melepaskan cengkeramannya pada benang itu.
Dengan satu tarikan kuat, benang merah membelit tubuh Satria—memaksanya kembali ke posisi normal. Satria menjerit, suara jeritannya tumpang tindih dengan suara lain—suara makhluk itu, yang berusaha mempertahankan cengkeramannya dalam tubuh Satria.
Mbah Wijaya menggigit ujung jarinya hingga berdarah, lalu menggambar simbol kuno di tanah dengan darahnya.
"DENGAN NAMA LELUHURKU, KEMBALILAH WAHAI SUKMA YANG TERSESAT!"
Benang merah itu tiba-tiba bersinar terang!
Satria terlempar ke belakang, tubuhnya kejang sebelum akhirnya terkulai lemas. Mulutnya mengeluarkan gumpalan asap hitam pekat, yang melesat ke udara dan menghilang dengan suara melengking menyakitkan.
Mbah Wijaya buru-buru berlutut, mengguncang tubuh Satria. "Satria! Sadarlah!"
Satria terbatuk keras, tubuhnya gemetar. Perlahan, matanya terbuka. "Mbah… aku… aku kembali?"
Namun sebelum Mbah Wijaya sempat menjawab—suara geraman menggelegar memenuhi udara.
Makhluk yang berdiri di dekat sumur itu kini menatap mereka dengan mata penuh kebencian.
"KAU TELAH MENGGAGALKAN AKU…"
Senyumnya menghilang, wajahnya kini berubah lebih menyeramkan. Dari tenggorokannya keluar suara yang menggema, seakan berasal dari puluhan makhluk yang marah bersamaan.
"JIKA TIDAK ADA YANG MENJADI PENGGANTIKU… AKU AKAN MENGAMBIL SEMUANYA!"
Ia menengadahkan kepala ke langit, lalu menjerit dengan suara yang begitu menusuk dan memekakkan telinga.
Di seluruh desa, suara siulan kembali menggema… dan satu per satu, warga mulai berteriak ketakutan.
Suara jeritan terdengar dari arah desa. Makhluk itu telah memulai terornya.
Mbah Wijaya menggenggam erat Satria yang masih lemah. "Kita harus mengakhiri ini sekarang juga!"
Satria mengangguk meski tubuhnya masih terasa lemas. "Bagaimana caranya, Mbah?"
Mbah Wijaya merogoh kantong kainnya dan mengeluarkan beberapa benda: sejumput garam hitam, seikat daun suruh, dan segenggam abu dari dupa pusaka.
"Kita akan melakukan pemeteraian. Makhluk ini harus dikembalikan ke dalam sumur, dan sumurnya harus kita segel."
Namun, mereka tak punya banyak waktu. Makhluk itu mulai melangkah mendekat, tubuhnya semakin berubah.
Tangannya kini lebih panjang, kukunya mencuat seperti cakar, dan kulitnya yang kurus tampak lebih menyerupai kulit mayat yang membusuk.
"RITUAL ITU TAK AKAN BERHASIL… AKU AKAN MEMAKAN KALIAN SEBELUM SELESAI!"
Satria dan Mbah Wijaya bergegas memulai ritual.
Mbah Wijaya menggambar simbol kuno di tanah dengan abu dupa, sementara Satria meletakkan daun suruh di empat penjuru sumur. Ia kemudian menaburkan garam hitam di sekelilingnya.
Namun, baru saja mereka mulai…
DUARRR!
Angin berhembus begitu kencang, menyapu abu yang baru saja ditaburkan. Daun suruh beterbangan, garam yang seharusnya membentuk garis perlindungan ikut terbawa angin.
Satria mengumpat. "Sial! Kita harus mengulang lagi!"
Mbah Wijaya mencoba menenangkan diri. "Jangan panik. Ambil daun suruh baru, cepat!"
Satria buru-buru meraih daun suruh lain dari kantong Mbah Wijaya. Namun saat hendak meletakkannya di tanah…
TANGAN BUSUK DENGAN KUKU PANJANG MENYERANGNYA DARI BELAKANG!
SWIIISSHH!!
Satria melompat mundur tepat waktu, namun kukunya berhasil menggores pundaknya. Ia menjerit kesakitan.
Darah merembes dari luka itu, dan makhluk tersebut menyeringai lebar.
"DAGINGMU… SUDAH KUCOBA SATU GIGITAN…"
Satria menggertakkan giginya. "Brengsek…!"
Mbah Wijaya cepat-cepat menarik Satria mendekat dan menaburkan garam hitam ke tanah.
Makhluk itu meraung.
Asap hitam mengepul dari kakinya saat menyentuh garam, seakan terbakar. Namun itu tidak cukup untuk menghentikannya.
Mbah Wijaya segera menggenggam dupa pusaka, membakar ujungnya, dan mengayunkannya di depan sumur.
"Dengan api leluhur, aku segel kehadiranmu!"
Ia menaburkan abu dupa ke dalam sumur. Tanah mulai bergetar.
Namun makhluk itu tidak tinggal diam.
Dengan kecepatan mengerikan, ia melompat ke arah mereka!
Satria dan Mbah Wijaya terpental ke tanah. Daun suruh kembali berhamburan, dan sebagian garam hitam tersapu kaki makhluk itu.
"KALIAN TAK AKAN BERHASIL!"
Ritual mereka nyaris gagal.
Namun, Mbah Wijaya tiba-tiba menoleh ke Satria dengan tatapan tajam. "Satria! Luka di bahumu… darahmu bisa menjadi segel terakhir!"
Satria membelalak. "Apa?! Maksud Mbah—"
"TIDAK ADA WAKTU! OLESKAN DARAHMU DI TANDA SEGEL!"
Dengan sisa tenaga, Satria meraih luka di pundaknya, mencelupkan jarinya ke dalam darahnya sendiri, lalu menggambar ulang simbol yang tadi hampir lenyap!
Begitu darahnya menyentuh tanah…
"AAAAAAAAAAARRGGHHH!!!"
Makhluk itu menjerit keras.
Angin berputar mengelilingi sumur, membentuk pusaran yang semakin kencang. Daun suruh yang tersisa bergetar hebat, kemudian menempel sendiri di empat penjuru sumur seperti dipaksa oleh kekuatan tak kasat mata.
Makhluk itu berusaha melawan, tetapi tubuhnya mulai tersedot kembali ke dalam sumur.
"TIDAAAAAK…!!!"
Ia mencakar tanah, meraih apapun yang bisa digenggam. Namun, tubuhnya semakin terhisap ke dalam kegelapan.
Sebelum kepalanya tenggelam ke dalam sumur, ia menatap Satria dan Mbah Wijaya dengan mata penuh dendam.
"AKU AKAN KEMBALI… KETIKA SIULAN TERDENGAR LAGI…!!!"
Lalu—BRAAKK!!
Sumur itu bergetar sekali lagi sebelum akhirnya… hening.
Makhluk itu telah tersegel.
Desa kembali sunyi.
Angin yang tadi berputar liar kini mereda. Langit yang semula mendung mulai terbuka, menampakkan bintang-bintang yang sebelumnya tertutup kabut.
Satria terduduk di tanah, tubuhnya lelah, napasnya tersengal-sengal. Bahunya masih berdarah, tapi rasa sakitnya seakan tertutupi oleh sesuatu yang lebih besar…
Mbah Wijaya tetap berlutut di depan sumur tua, menundukkan kepala seakan ada yang sedang ia dengarkan.
"Sudah selesai…?" suara Satria terdengar ragu.
Namun, Mbah Wijaya tidak langsung menjawab. Ia hanya menutup matanya sejenak, menarik napas panjang, lalu berbisik pelan.
"Belum."
Satria menegang. "Apa maksud Mbah? Kita sudah menyegelnya, kan?"
Mbah Wijaya akhirnya menoleh, tatapannya tampak lebih berat daripada sebelumnya. "Makhluk itu memang sudah disegel… tapi ada harga yang harus kita bayar."
Satria merasakan hawa dingin merayap ke tulang belakangnya.
Perlahan, ia melirik ke arah tangannya—dan baru sadar bahwa warna kulitnya tampak sedikit lebih pucat.
Detik itu juga, suara di kepalanya mulai berbisik.
"Kau sudah memberiku sebagian jiwamu…"
Satria terkesiap. Ia mundur beberapa langkah, seakan ingin menjauh dari tubuhnya sendiri. "Apa… apa ini?"
Mbah Wijaya menatapnya dengan penuh rasa bersalah.
"Kau menggunakan darahmu sebagai segel terakhir. Itu berarti… sebagian dari dirimu sekarang terikat dengan sumur ini."
Satria menggertakkan giginya, mencoba menyangkal. "Jadi… aku sudah dikutuk?"
Mbah Wijaya tak menjawab, hanya mengangguk pelan.
Satria mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia ingin marah, tapi tak tahu harus menyalahkan siapa. Kalau mereka tidak melakukan ritual itu, seluruh desa akan binasa. Namun, kini ia sendiri yang harus menanggung akibatnya.
Tiba-tiba, suara lolongan terdengar di kejauhan.
Mbah Wijaya bangkit berdiri. "Kita harus kembali ke desa. Aku akan mencoba mencari cara untuk menghapus kutukanmu."
Satria menatap sumur tua itu untuk terakhir kalinya sebelum mengikuti Mbah Wijaya.
Namun, saat ia melangkah pergi…
dari dalam sumur, terdengar bisikan halus, nyaris seperti siulan kecil yang belum selesai.
"Aku masih di sini…"
Malam itu, Satria tidak bisa tidur.
Setelah kembali dari sumur tua, tubuhnya terasa lebih lemah dari biasanya. Nafasnya berat, dadanya sesak, dan kepalanya berdenyut seolah ada sesuatu yang mencoba masuk ke dalam pikirannya.
Ia duduk di dipan kayunya, menatap kosong ke arah lantai. Ada perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan.
Rasanya seperti… ada yang mengawasinya.
Satria menoleh ke jendela. Malam masih gelap. Angin berhembus pelan, membuat dedaunan di luar bergerak samar. Ia menghela napas, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya sudah berakhir.
Namun… saat ia menatap pantulan jendela, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di belakangnya.
Sesosok wajah.
Pucat. Mata melotot tanpa kelopak. Senyum lebar dengan gigi-gigi menghitam berkarat.
Jantung Satria berhenti sejenak.
Ia membalikkan badan secepat kilat—
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Satria menelan ludah. "Sial… aku pasti cuma kelelahan."
Namun, saat ia hendak berdiri dari dipannya—
TANGANNYA MENYENTUH SESUATU YANG DINGIN DAN KERAS.
Jantungnya hampir melompat keluar. Ia menoleh perlahan… dan baru sadar…
Ada tangan lain di atas dipannya.
Tangan itu pucat, kurus, dengan kuku panjang yang menempel di kayu.
Satria terhenyak, tubuhnya langsung mundur ke belakang. "Siapa?!"
Saat itu juga, dari kolong dipan—sesuatu merangkak keluar.
Sebuah kepala… tanpa badan… dengan wajah yang sama seperti di jendela.
Mata itu melotot ke arah Satria, dan dengan suara bergetar, ia berbisik:
"Kau bisa melihatku sekarang…"
Satria berteriak.
Ia terjatuh ke belakang, tubuhnya gemetar. Saat kepalanya menoleh ke kanan, ia melihat lebih banyak lagi.
Di sudut ruangan, ada sesosok perempuan berambut panjang, berdiri diam dengan kepala tertunduk.
Di langit-langit, ada pocong yang tergantung terbalik, menatapnya dengan mata kosong.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, sepasang tangan kotor mencengkeram kusennya, seakan siap menariknya masuk ke dalam kegelapan.
Satria tersentak, matanya melebar.
Dunia sudah berubah.
Kini, ia bisa melihat mereka semua.
Satria terduduk di lantai, napasnya memburu.
Makhluk-makhluk itu masih ada di sekelilingnya, menatap tanpa berkedip. Wajah-wajah mengerikan mengintip dari balik jendela, di sudut ruangan, di langit-langit.
Dunia yang dulu terasa biasa, kini penuh dengan mereka.
Ia mencoba memejamkan mata, berharap semua ini hanyalah ilusi.
Namun suara-suara itu terus berbisik di kepalanya.
"Kau memanggil kami…"
"Kau membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tidur…"
"Sekarang kau harus menerima akibatnya…"
Tiba-tiba, tubuhnya terasa berat. Ada sesuatu yang menekan dadanya. Tangannya mencakar lantai, berusaha bangkit—tapi gagal.
Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya.
Kemudian, suara lain terdengar.
"Ini bukan mimpi, Satria…"
Perlahan, ia menoleh ke arah suara itu.
Di pojok ruangan, sosok yang lebih besar muncul dari kegelapan. Makhluk itu.
Ia kini berdiri tegak, jauh lebih tinggi dari manusia biasa. Kulitnya hitam legam seperti arang yang terbakar, matanya kosong seperti lubang tanpa dasar.
Ia melangkah mendekat.
Setiap langkahnya membuat lantai bergetar.
"Kau yang bersiul malam itu…"
"Kau yang membangunkanku…"
"Sekarang, kau adalah bagian dari dunia kami."
Satria ingin berteriak, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.
Tangan makhluk itu terulur, jari-jarinya yang panjang menyentuh kepala Satria. Seketika, rasa dingin menusuk ke dalam kepalanya, menembus pikirannya.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu…"
Seketika, semuanya berubah.
Pemandangan di depan matanya berubah menjadi desa yang sama—tapi bukan di masa sekarang.
Ia melihat seorang pemuda di masa lalu, berdiri di tengah jalan desa, bersiul di bawah rembulan.
Orang-orang tua memperingatkannya, tapi ia mengabaikan mereka.
Tak lama setelah itu, satu per satu penduduk desa mulai menghilang.
Mereka ditemukan dalam kondisi mengenaskan, wajah mereka dipenuhi ekspresi ketakutan yang luar biasa.
Satria menyadari sesuatu—pemuda itu… mirip dengannya.
Kemudian, kilatan terakhir yang ia lihat adalah sumur tua yang terbuka… dan kegelapan yang keluar darinya.
Saat ia tersadar kembali, tubuhnya gemetar.
Makhluk itu menyeringai. "Kau telah mengulang kesalahan yang sama."
"Sekarang, kau harus menerima nasibmu."
Satria menyadari sesuatu…
Ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia biasa.
Dunia yang kasat mata dan tak kasat mata kini menjadi satu untuknya.
Dan itu… adalah harga yang harus ia bayar.
Malam terasa semakin dingin.
Satria berdiri di tengah jalan desa, sendirian. Langkahnya berat, napasnya tak beraturan. Ia menatap sekeliling…
Namun yang ia lihat bukan lagi desa seperti dulu.
Ia melihat mereka.
Di setiap sudut, di balik rumah-rumah, di antara pepohonan. Makhluk-makhluk mengerikan kini menjadi bagian dari dunianya. Pocong dengan wajah membusuk berdiri di pinggir jalan. Kuntilanak dengan senyum mengerikan bergelayut di dahan pohon. Sosok hitam tinggi tanpa wajah mengintip dari balik pagar.
Ia kini hidup di dua dunia yang saling bertumpang tindih.
Dan tidak ada jalan keluar.
Satria tersenyum pahit. "Jadi ini akibatnya?"
Langkahnya terhenti di depan sumur tua.
Ia menatap ke dalamnya. Gelap… dalam… kosong.
Tapi ia tahu sesuatu ada di bawah sana.
Sesuatu yang menunggunya.
Kemudian, dari dalam kegelapan sumur, terdengar suara…
Siulan.
Pelan… menusuk telinga… mengundang.
Satria tahu apa yang harus ia lakukan.
Tanpa ragu, ia melangkah masuk ke dalam sumur.
Tubuhnya jatuh ke dalam kegelapan, semakin dalam… semakin jauh…
Dan akhirnya, ia menjadi bagian dari makhluk-makhluk itu.
Di desa, malam kembali sunyi.
Tak ada jejak Satria yang tersisa.
Hanya angin yang berhembus… dan suara siulan lirih yang terus terdengar dari dalam sumur tua.
Tamat.
⚠️ DISCLAIMER:DILARANG KERAS MENGCOPY, MENJIPLAK, ATAU MENGKOMERSIALKAN ISI POSTINGAN TANPA SEIJIN PENULIS.

Komentar
Posting Komentar